29
Mar
13

KETIKA IJAZAH MENJADI TIKET HIDUP MANUSIA MAKA SISWA MENJADI HUMAN COMMODITIES


KETIKA IJAZAH MENJADI TIKET HIDUP MANUSIA MAKA

SISWA MENJADI HUMAN COMMODITIES

Semalam Twitter dihebohkan oleh topik yang di kultwit oleh @1000_guru yang bunyinya seperti ini “MK : lulusan non-kependidikan dapat menjadi guru dan dosen” Bagaimana ini ya? *senggol @1000_guru Se-Indonesia!”.  Sontak semua berreaksi dan saling mengeluarkan argumennya masing-masing, ada yang pro dan ada yang kontra sehingga suasana menjadi seru banget. Inilah kondisi media sosial di indonesia Indonesia, media sosial sering di jadikan ajang untuk berdiskusi, debat, dan shering. Dalam hal ini saya cukup senang lah menambah wawasan

Terlepas dari media sosial hususnya Twitter semalam yang membahas topik diatas, saya termasuk orang yang setuju dengan keputusan MK, yang menolak pengujian UU Guru dan dosen yang bertujuan untuk membatasi profesi Guru hanya bagi sarjana pendidikan saja. Saya paham dan cukup mengerti apa yang menjadi latar belakang munculnya pembatasan profesi guru hanya untuk sarjana pendidikan. Supaya kualitas Guru menjadi lebih baik. Namun ketika berbicara masalah kualitas, tidak bisa di generalisir juga karena tidak semua lulusan sarjana pendidikan juga siap dan mampu menjadi Guru yang berkualitas.

Faktanya bahwa, kemunduran dan keterpurukan Pendidikan di Indonesia juga tidak terlepas dari kualitas Guru selama ini yang notabene katakanlah saya berasusmsi sekurang-kuranya delapan puluh persen adalah lulusan sarjana pendidikan. Saya setuju masalah kemajuan dan kemunduran Pendidikan juga bukan hanya menjadi tanggung jawab Guru semata, tetapi juga kaitannya dengan kebijakan pemerintah dan juga masyarakan yang menyekolahkan anak-anak-nya.

Oleh karena itu, pemikiran saya sangatlah sederhana. Artinya ketika ada pertentangan dan ada kegaduhan, berarti di situ telah terjadi kesalahan, baik kesalahan prosedur atau kesalahan kebijakan. Maka dari itu memang perlu adanya peninjauan ulang terhadap kebijakan itu sendiri.

Pandangan saya tentang adanya putusan MK atau tidak itu tidak jadi soal. Yang jadi perhatian saya adalah jauh dari sebelum adanya keputusan MK tersebut dimana berdasarkan sedikit analisa peribadi, memang sudah terjadi kesalahan yang sangat mendasar di dunia Pendidikan Indonesia.

Percakapan semalam di Twitter memaksa saya berpikir keras dan menyimpulkan bahwa pendidikan adalah pondasi dasar pembangunan bangsa dan menjadi titik dasar dari pembentukan kebudayaan yang baru di Negeri ini.

Kebudayaan baru yang di timbulkan oleh dunia Pendidikan adalah timbulnya tolak ukur penghargaan terhadap seseorang di negeri ini dilihat dari Ijazah dan Lulusan, bukan dari hasil karyanya. Yang kenyataannya tidak semua warga Negara bisa menggapainya. Belum lagi ditambah dengan standarisasi nilai kelulusan yang cukup tinggi.

Semalam juga saya sempat berbincang dengan salah satu teman warga negara Indonesia yang kebetulan berdomisili di Polandia tepatnya di Krakow dan kebetulan dia juga menyimak diskusi kita di Twiiter tentang tema itu. Menurut beliau di Twitter; @bidadari_azzam :-/ngeliat tweet yg td,sy jd inget2…ada MC yg lgsg gakramah gr2 sy bukan Doctor:-p tp sedang dimnta mnjdi narasumber…  .Padahal narasumber lainnya di acara tsb adl prof dan syaikh yg sikapnya sgt sopan dan mnghargai sy🙂. *MCnya pemujaijazah*…. bagian mindset klo udah tmbh bnyk sobat mancanegara,beda bgt,Pak.. Kami suami-istri,’gaul di Eropa’ ndak prnh ditnya ijazah… Kalo lg balik ke Indo atau acara2 seputar negeri timteng,”lulusan mana yah?”:-p itu jd prtanyaan langganan.😀

Dari percakapan itu saya jadi tahu bahwa ternyata di luar sana di Eropa lagi, ijazah itu bukan lah hal yang utama tapi di Negeri ini ijazah seolah-olah sudah menjadi tiket hidup seseorang, kalau punya ijazah dari sekolah terkenal maka dia layak hidup. Sebaliknya kalau tidak punya ijazah mohon maaf…

Begitu sangat pentingnya Ijazah di Negeri ini, maka sekolah seolah-olah harga mati bagi kehidupan seseorang di Indonesia. Karena begitu sangat pentingnya juga orang rela berbondong-bondong dan bersusah payah mencari uang untuk membiayai sekolah anaknya bagaimanapun caranya. Kondisi ini mendorong semua sekolah di Indonesia untuk berkompetisi menjual citranya dengan harapan mendapatkan siswa baru sebanyak-banyak-nya dengan persaingan biaya sekolah pun sangat tingi tapi sayangnya tidak di barengi dengan kualitas yang memadai.

Ketika saya pertama kali masuk dunia pendidikan sebagai Guru BP BK saya begitu bersemangat dan atusias dengan harapan bisa membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas baik secara keilmuan dan secara moralitas. Namun apa yang saya lihat dan alami, cita-cita saya itu serasa hilang sirna ditelan bumi. Karena dalam kenyataannya sangatlah susah mewujudkan itu semua padahal itu adalah tempatnya.

Kenyataan yang terjadi dilapangan hususnya di sekolah tempat saya mengabdi, saya melihat siswa di lapangan itu tidak ubahnya seperti kerbau-kerbau yang sedang di gembala. Kalau menurut pak Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul Sekolahnya Manusia, Siswa itu bukan robot yang bisa di perintah seenaknya. Kalau menurut Soe Hok Gie dalam buku CSD “Guru yang tidak tahan terhadap keritikan boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selamanya benar, dan Murid bukan kerbau”.

Kalau kita sebagai orang tua jeli dan keritis terhadap pendidikan anakn-anaknya, mungkin pak Munif Chatib juga tidak akan menulis buku itu. Dan orang tua tidak menganggap sekolah sebagai penitipan anak belaka.

Terakhir saya hanya berharap bahwa Dunia Pendidikan Khususnya sekolah bisa kembali kepada peran dan fungsi dasar sebagai sarana untuk menjadikan manusia itu lebih dewasa dan bisa berdiri sendiri dalam masa depanya tanpa terhambat oleh selembar kertas pengesahan legalitas formal belaka.

 

 

 


0 Responses to “KETIKA IJAZAH MENJADI TIKET HIDUP MANUSIA MAKA SISWA MENJADI HUMAN COMMODITIES”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s