26
Des
12

KOMPETENSI GURU


3dimensi1.jpg

1. Pengertian

A. Kompetensi

Menurut Spencer and Spencer (1993) Kompetensi adalah suatu karakteristik dasar seseorang yang memungkinkan kinerja unggulan dalam pekerjaan, peran, atau situasi tertentu.

Kompetensi dalam kehidupan nyata seperti puncak gunung es yang puncaknya adalah keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge)Unsur-unsur yang mendasari kompetensi tidak mudah terlihat, tetapi mengarahkan dan mengendalikan perilaku yang terlihat. peran sosial dan konsep diri (self-concept) ada di tingkat sadar. sementara watak (traits) dan motif (motives) ada di bawah permukaan lebih dekat dengan inti kepribadian.

jadi kalau di urut dari tingkatan paling atas, Kompetensi itu gabungan dari :

1. Paling atas keterampilan (skill)

Menurut Lutan (1988:94) “Keterampilan dipandang sebagai satu perbuatan yang merupakan sebuah indikator dari tingkat kemahiran, juga dapat dinyatakan untuk menggambarkan tingkat kemahiran seseorang elaksanakan suatu tugas”

Lebih lanjut Lutan (1988:96) menjelaskan, “Seseorang dapat dikatakan terampil atau mahir itandai oleh kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu dalam kualitas yang tinggi (cepat atau cermat) dengan tingkat keajegan yang cukup mantap.”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”

2. Kedua dari atas pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsihipotesiskonsepteori,prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, pengetahuan berarti segala sesuatu yg diketahui; kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Adapun pengetahuan menurut beberapa ahli adalah:

  1. Menurut Pudjawidjana (1983), pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan indera dan pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan sebuah objek tertentu.
  2. Menurut Ngatimin (1990), pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
  3. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telingan.

Dari beberapa pengertian pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui yang diperoleh dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak. Partanto Pius dalam kamus bahasa indonesia (2001) pengetahuan dikaitkan dengan segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses belajar

Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan diam seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lesan. Kemampuan berbahasa, mendesain, atau mengoperasikan mesin atau alat yang rumit membutuhkan pengetahuan yang tidak selalu bisa tampak secara eksplisit, dan juga tidak sebegitu mudahnya untuk mentransferkannya ke orang lain secara eksplisit.

Contoh sederhana dari pengetahuan implisit adalah kemampuan mengendara sepeda. Pengetahuan umum dari bagaimana mengendara sepeda adalah bahwa agar bisa seimbang, bila sepeda oleh ke kiri, maka arahkan setir ke kanan. Untuk berbelok ke kanan, pertama belokkan dulu setir ke kiri sedikit, lalu ketika sepeda sudah condong ke kenan, belokkan setir ke kanan. Tapi mengetahui itu saja tidak cukup bagi seorang pemula untuk bisa menyetir sepeda.

Seseorang yang memiliki pengetahuan implisit biasanya tidak menyadari bahwa dia sebenarnya memilikinya dan juga bagaimana pengetahuan itu bisa menguntungkan orang lain. Untuk mendapatkannya, memang dibutuhkan pembelajaran dan keterampilan, namun tidak lantas dalam bentuk-bentuk yang tertulis. Pengetahuan implisit seringkali berisi kebiasaan dan budaya yang bahkan kita tidak menyadarinya.

3. Ketiga dari atas konsep diri (self-concept)

Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7).

Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya.

Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.

Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.

Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.

Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.

Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

 4. Keempat dari atas watak (traits)

watak (traits) adalah kecenderungan seseorang untuk berperilaku terhadap suatu situasi (Hurlock, 1974). dengan demikian traits dapat dikatakan sebagai prediksi reaksi yang akan di timbulkan oleh seseorang terhadap satu situasi.

Menurut Suryabrata, 2003 trait terkadang dapat disamakan dengan sikap, karena sama-sama memiliki makna yang mempunyai kecenderungan seseorang untuk berperilaku. sikap merupakan kecenderungan untuk merespon suatu stimulus secara sepesifik, sedangkan trait merupakan kecenderungan untuk merespon secara umum. Trait merupakan bentuk umum dari sikap.

5. kelima dari atas motif (motives)

Menurut Cut Zurnali (2004), motif adalah faktor-faktor yang menyebabkan individu bertingkah laku atau bersikap tertentu. Jadi dicoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti kebutuhan apa yang dicoba dipuaskan oleh seseorang? Apa yang menyebabkan mereka melakukan sesuatu pekerjaan atau aktivitas. Ini berarti bahwa setiap individu mempunyai kebutuhan yang ada di dalam dirinya (inner needs) yang menyebabkan mereka didorong, ditekan atau dimotivasi untuk memenuhinya. Kebutuhan tertentu yang mereka rasakan akan menentukan tindakan yang mereka lakukan.

Lebih lanjut Cut Zurnali mengutip pendapat Fremout E. kast dan james E. Rosenzweig (1970) yang mendefinisikan motive sebagai :

“a motive what prompts a person to act in a certain way or at least develop appropensity for speccific behavior. The urge to action can tauched off by an external stimulus, or it can be internally generated in individual thought processes”.

Jadi motive adalah suatu dorongan yang datang dari dalam diri seseorang untuk melakukan atau sedikitnya adalah suatu kecenderungan menyumbangkan perbuatan atau tingkah laku tertentu.

William G Scott (1962: 82) menerangkan tentang motive adalah kebutuhan yang belum terpuaskan yang mendorong individu untuk mencapai tujuan tertentu. Secara lengkap motiv menurut Scott

“motive are unsatiesfied need which prompt an individual toward the accomplishment of aplicable goals”.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan, motive adalah dorongan yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan perbuatan guna memenuhi kepuasannya yang belum terpuaskan. Selain itu, Maslow membagi kebutuhan manusia ke dalam beberapa hirarki, yakni kebutuhan-kebutuhan fisik, keselamatan dan keamanan, sosial, penghargaan atau prestise dan kebutuhan aktualisasi diri.

B. Guru

Secara Umum

Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Secara khusus

Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.

Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.

Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi, karena salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran Sepuluh Guru Sikh. Hanya ada sepuluh Guru dalam agama Sikh, dan Guru pertama, Guru Nanak Dev, adalah pendiri agama ini.

Orang IndiaChinaMesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka.

C. Pedagogik

Pedagogik berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogic secara harfiah berari pembantu anak laki-laki pada jaman Yunani kuno, yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan pedagogik adalah seorang ahli, yang membimbing anak kearah tujuan hidup tertentu.

Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda) pedagogic adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kearah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogic adalah ilmu pendidikan anak.

Langeveld (1980), membedakan istilah “pedagogic” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogic diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak, mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan pada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.
Pedagogic merupakan suatu teori yang secara teliti, krisis dan objektif, mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakekat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan. Walaupun demikian, masih banyak daerah yang gelap sebagai “terraincegnita” (daerah tak dikenal) dalam lapangan pendidikan, karena masalah hakekat hidup dan hakekat manusia masih banyak diliputi oleh kabut misteri.

2. Kompetensi Guru

Berdasarkan pengertian diatas, maka kita bias mengambil pengertian bahwa yang di sebut dengan Kompetensi guru adalah

Kompetensi Guru adalah suatu karakteristik dasar seseorang yang memungkinkan menjadi pengajar suatu ilmu yang unggulan dan professional dalam pekerjaan, peran, atau tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Karakteristik dasar yang harus di miliki oleh seorang guru adalah:

  1. Harus Mempunyai keterampilan (skill)

Seorang calon guru Harus mempunyai “Keterampilan yang dipandang sebagai satu perbuatan yang merupakan sebuah indikator dari tingkat kemahiran, juga dapat dinyatakan untuk menggambarkan tingkat kemahiran seseorang dalam  mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik”, yang di tunjukan dengan kemampuannya untuk menghasilkan peserta didik dalam kualitas yang tinggi (cepat atau cermat) dengan tingkat keajegan yang cukup mantap.” Serta  “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”.

Mampu mengunakan alat-alat atau media yang bisa menunjang seluruh kegiatan pendidikan (mesin, computer, internet, infokus dan lain-lain).

  1. Harus mempunyai pengetahuan (knowledge)

Seorang calon guru harus sudah mempunyai pengetahuan secara mendalam dan mendetil tentang dunia pendidikan secara keseluruhan (struktur kebijakan dari pusat sampai ke lembaga pendidikannya), secara garis besar (tujuan pendidikan), dan secara spesifik (Tingkatan sekolah/lembaga apa dan dimana serta usia anak didik. Selanjutnya tentusaja pengetahuan akan mata pelajaran yang akan di emban), yang tidak di batasi deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara probabilitas bayesian adalah benar dan berguna.

Khusus untuk pengetahuan secara spesifik, alangkah baiknya guru juga mempunyai pengetahuan tentang tahap-thap perkembanagn anak didiknya supaya tidak menyamakan perlakuan terutama pada tingkatan usia dan kelas anak didik. Saya sarankan setiap calon guru atau bahkan guru untuk mempelajari tahap-tahap perkembangan anak.

Bisa di cari bukunya yang berjudul “Psikologi Perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan” dari Elizabeth B, Hurlock

Guru yang mempunyai pengetahuan harus bisa dan mampu menganalisis dan mengambil keputusan berdasarkan situasi yang terjadi. Selain itu juga, guru yang mempunyai pengetahuan akan mampu mengevaluasi ketidak sesuaian antara teoritis dan praktisnya. Ketika ada ketidak sesuaian maka guru yang mempunyai pengetahuan berani mengambil keputusan demi terciptanya tujuan pendidikan. Selanjutnya, guru yang mempunyai pengetahuan akan menimbulkan kepekaan terhadap kebenaran

Kesimpulannya, Guru yang mempunyai pengetahuan tentang dunia pendidikan secara keseluruhan mampu melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir, menjadi dasar guru bersikap dan bertindak sesuai dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar dan pendidikan secara keseluruhan dengan berpegang teguh pada tujuan pendidikan itu sendiri yaitu “mengantarkan anak didik kepada kedewasaan dan kebahagiaan”.

  1. Harus mempunyai konsep diri (self-concept)

 

Seorang guru haruslah mempunyai cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya

Guru yang mempunyai konsep diri akan mampu menilai dirinya sendiri baik yang bersifat fisik, social, maupun psikologis. Dengan konsep diri ini, seorang guru akan menentukan tingkah laku dan cara penyesuaian diri sehingga seorang guru yang mempunyai konsep diri yang positif akan menghasilkan perilaku yang positif. Selain itu juga seorang guru akan mudah menyesuaikan diri terhadap masalah-masalah yang dihadapinya. Sebaliknya seorang guru yang mempunyai konsep diri yang negatif akan menghasilkan perilaku yang negatif.

Bentuk dari konsep diri yang positif adalah:

–         Mempunyai keyakinan akan mampu mengatasi masalah

–         Merasa setara dengan manusia lain

–         Menerima pujuan tampa rasa malu

–         Menyadari kalau setiap orang mempunyai perasaa, keinginan, dan perilaku yang selamanya tidak selamanya di setujui oleh masyarakat.

–         Mampu memperbaiki diri karena mampu mengungkapkan suatu kepribadian yang tidak di senangi dan berusa merubah kearah yang lebih baik lagi.

Ketika guru mempunyai konsep diri yang baik maka akan terciptalah sebuah pembelajaran yang tidak membutuhkan otot lagi tetapi tujuan pendidikan tercapai dan memuaskan.

  1. Harus memiliki watak (traits)

Dalam hal ini, kita semua sudah bias merasakan dan menilai ketika kita masih di bangku sekolah. Kita bias memilih dan menyukai serta tidak menyukai siapa guru yang baik dan siapa guru yang tidak kita sukai

Tanpa saya jelaskan lebih lanjut, mengenai watak ini saya rasa kita semua sudah memahaminya. Namun kadangkala kita masih seringkali melihat watak yang memang maaf harus saya katakana,  tidak pantas berada di lingkungan pendidikan.

Oleh karena itu kenapa saya menuliskan kempetensi ini supaya para calon guru lebih peduli dan lebih di perhatikan lagi masalah kepatutan, apakah kita pantas menjadi seorang guru atau tidak terlepas dari dorongan kita membutuhkan penghasilan atau tidak.

Ketika kita gabungkan antara watak ini dengan tugas seorang guru (mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.)  coba kita bayangkan..!

Jangan anggap sepele masalah ini, karena permasalahan watak ini lah yang biasanya memicu permasalahan yang sebenarnya. Dan masalah ini pula lah yang sangat sulit untuk di rubah.

Kita juga tau persis watak seperti apa yang seharusnya ada di setiap guru kita.

  1. Harus memiliki motif (motives)Yang bukan profit oriented

Jaman sekarang ini pekerjaan yang paling favorit adalah pegawai negeri sipil, dan yang paling banyak di buru adalah profesi guru karena berbagai hal. Diantaranya masa kerja setengah hari, liburnya banyak, gaji full dan sebagainya.

Ketika ini dijadikan sebuah motif  tanpa melihat factor yang empat di atas, mohon maaf saya rasa dunia pendidikan di Indonesia akan semakin carutmarut dan tidak jelas kemana arahnya seperti yang sekarang ini sudah terjadi.

Betul!! Seorang guru memerlukan kesejahteraan. Tanpa ada kesejahteraan seorang guru tidaklah maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru

Supaya seimbang bahwa saya juga tidak menyampingkan hal kesejahteraan, saya akan memberikan teori mengenai insentive. Tapi ada PR lagi apakah dunia pendidikan sama dengan dunia industry?

 Menurut Cut Zurnali, pendapat yang mengemukakan bahwa insentif adalah suatu perangsang atau daya tarik yang sengaja diberikan kepada karyawan dengan tujuan agar karyawan ikut membangun, memelihara dan mempertebal serta mengarahkan sikap atau tingkah laku mereka kepada satu tujuan yang akan dicapai perusahaan. Joseph Tiffin (1985: 267) mengatakan bahwa pemnberian insentif sangat diperlukan terutama apabila karyawan tidak banyak mengetahui tentang hal apa yang akan dilakukannya. Berikut secara lengkap diuraikan pendapat Tiffin: ordinary speaking, people will not learn very much about anything unless they are motivated to do so, that is, unless they are supplied with an adequate incentive. Maknanya bahwa seseorang tidak banyak mengetahui tentang sesuatu hal, apabila mereka tidak didorong untuk melakukan pekerjaan yang demikian itu, yaitu apabila mereka tidak dibekali dengan insentif secara cukup.

Terakhir saya mau mengutif perkataan ayahnya Abraham Linkoln;

“Seorang pemimpin yang baik itu terlahir menjadi seorang pemimpin dan atau di persiapkan untk menjadi seorang pemimpin”

 “seorang guru yang baik itu terlahir untuk menjadi seorang guru dan atau di persiapkan untuk menjadi seorang guru”


0 Responses to “KOMPETENSI GURU”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s