09
Agu
09

Problem pnpm mandiri


pepi perdiansyah

pepi perdiansyah

Program pnpm mandiri merupakan program aplikasi dari kultur masyarakat indonesia yang mempunyai karakter kebersamaan dan gotong royong serta saling tolong menolong satu sama lain meskipun mempunyai beribu-ribu suku bangsa dan adat kebiasaan. Oleh karena itu program-program yang dijalankan dalam program pnpm mandiri ini diharapkan berhasil menjadi program unggulan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun dalam pelaksanaannya program pnpm Mandiri ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan, dan tidak semulus apa yang dibayangkan, kalau sebelumya saya berpikir program pnpm mandiri ini bisa berjalan dengan mudah, lancar dan gampang karena dianggap sesuai dengan karakter budaya masyarakat indonesia yang terbiasa dengan kebersamaan dan gotong royong, ternyata salah, hal itu sudah sulit kita temukan di masyarakat sekarang ini.

Saya mempunyai pemikiran yang terlalu naif dalam menyikapi permasalahan ini, pasalnya program pnpm Mandiri ini berbeda dari program-program lainya sebelumnya. Menjalankan program pnpm Mandiri lebih sulit ketimbang program-program lain sebelunya. Anggapan program masyarakat yang sesuai dengan kultur dan kebiasaan masyarakat indonesia ternyata meleset dan dirasakan sudah tidak sesuai lagi karena kultur dan kebiasaan masyarakat sudah berubah jauh dan mungkin warisan penguasa sebelumnya dimana masyarakat terlalu dimanjakan dengan memberikan kemudahan serta mengangap indonesia ini negara kaya sehingga sudah tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu karena semuanya sudah tersedia di manapun kita berada. Selain itu kebiasaan pemerintah yang selalu memberikan ikan bukan kail menjadikan masyarakat malas untuk berusaha dan masyarakat sudah terbiasa hidup seperti itu.Sebagai contoh pemerintah selalu memberikan ikan bukan kail kepada masyarakat seperti program subsidi BBM, raski, BLT, dan lain-lain yang mana masyarakat langsung menerima tanpa harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk mendapatkannya.

Berbeda dengan program pnpm Mandiri ini dimana masyarakat lah yang harus merencanakan, menentukan, menjalankan, dan mengawasi kegiatan dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan. Pemerintah hanya sebagai fasilitator guna membantu masyarakat yang mempunyai keinginan dan tekad ingin merubah keadaan atau kondisi masyarakat menjadi lebih baik.

Adanya perubahan kebijakan seperti ini menjadikan permasalahan yang sangat mendasar, dimana masyarakat harus merubah kebiasaan yang tadinya selalu dicukupi semua kebutuhan oleh pemerintah (disuapin oleh pemerintah) sekarang masyarakat harus mencari dan berusaha sendiri untuk mendapatkan kebutuhannya. Oleh karena itu PR besar bagi masyarakat dalam menjalankan program PNPM Mandiri adalah berusaha merubah pola pikir yang biasa kita lakukan yaitu “apa yang akan kita dapatkan” menjadi “apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu”.

Setelah sosialisasi pertama program pnpm mandiri selesai dilaksanakan, pertama kali pertanyaan yang muncul dari masyarakat yang menghadiri sosialisasi ini adalah ; “berapa jumlah besaran uang pinjaman yang akan kami dapatkan dan kapan kira-kira uang pinjaman itu cair?”. ini menggambarkan bahwa pola pikir yang ada di masyarakat sudah terbentuk sedemikian kuatnya sehingga ketika mendengar ada bantuan dari pemerintah itu apapun namanya adalah pinjaman lunak seperti yang sudah sering mereka dapatkan dan sering kali juga tanpa harus berusaha mengembalikan uang pinjaman tersebut.

kebiasaan selalu diberi ikan dan bukan kailnya ternyata sudah membudaya dan menjadi darah daging masyarakat pada umumnya. Kita tidak tau kenapa hal ini menjadi budaya dan kebiasaan, apakah karena keadaan atau memang mental kita sudah seperti itu yang selalu ingin di beri.

sebagai contoh; kebutuhan anak akan pendidikan sudah seharusnya menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk memberi bekal hidup di masa yang akan datang. Namun tugas dan tanggung jawab akan pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar bagi anak-anak sekarang ini sudah diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Bila pemerintah tidak menanggulangi permasalahan pendidikan ini dengan membebaskan seluruh biaya pendidikan maka, anak secara otomatis banyak yang putus sekolah. Pertanyaannya adalah, siapakah yang bertanggung jawab menyekolahkan anak? Siapakah yang bertanggung jawab memberikan ilmu kepada anak supaya anak menjadi anak yang berguna di masa depan?

Contoh kaitan dengan program pnpm mandiri yaitu untuk membangun infra struktur misalnya jalan umum di perkampungan, masyarakat mempunyai permasalahan yang utama yaitu akses jalan umum yang tidak memadai. Masyarakat sepakat untuk membangun jalan umum berupa gang, namun permasalahn muncul ketika diangkat tentang pengadaan lahan untuk jalan tersebut ternyata masyarakat tidak mempunyai jalan keluarnya padahal lahan kosong hanya untuk sekedar buat jalan itu ada, tetapi statusnya masih milik perorangan. Kalo lah masyarakat mempunyai pemikiran yang luas dan panjang, kenapa tidak masyarakan gotong royaong untuk membeli tanah tersebut sebesar yang dibutuhkan untuk jalan tersebut sehingga tidak ada satu masyarakat yang merasa dirugikan mengingat jalan itu untuk keperluan bersama, lagi pula dana yang di butuhkan untuk itu tidaklah banyak Cuma terbebani masing-masing KK Rp 40.000 setelah di hitung itupun merasa keberatan, padahal itu lagi-lagi demi untuk kepentingan masyarakat bersama.

Program pemberdayaan masyarakat lewat pnpm mandiri yang bertujuan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari pemerintah hanya akan berhasil apabila seluruh masyarakat mempunyai potensi dan keinginan yang besar serta kuat untuk merubahnya. Selama keinginan dan motivasi untuk berubah belum ada maka program yang diberikan oleh pemeritah tidak akan berjalan. Logikanya seperti ini; bagai mana pemerintah bisa menolong masyarakatnya untuk berubah apabila masyarakatnya sendiri tidak mau ditolong dan tidak mau berubah serta cuma hanya ingin diberi tanpaharus berusaha terlebih dahulu.

Esensi dari program pnpm mandiri adalah terbentuknya masyarakat yang mandiri, peduli terhadap sesama, saling membantu, dan menumbuhkan kebersamaan dan selalu menekankan sikap gotong royong. Esendi yang ingin dibangun itu sesuai dengan karakter budaya yang sudah terbangun dari sejak dahulu yaitu, kebersamaan, gotong royong, saling tolong menolong dan peduli satu sama lain sehingga tercipta suasana kebersamaan. Karakter budaya ini lah yang sekarang ini sudah hampir tidak kita temukan lagi di masyarakat kita, sehingga untuk melaksanakan program pnpm mandiri sangatlah susah karena sudah terlanjur terbentuk budaya tidak mau berusaha dan selalu ingin di beri oleh orang lain serta sikap individualisme sudah terbentuk sampai ke tingkat daerah sehingga sudah minim sekali rasa kekeluargaan dan kepedulian terhadap sesama.

Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat lancarnya program pnpm mandiri yang dicanangkan pemerintah. Masyarakat sudah tidak mau lagi berkorban untuk orang lain dan masyarakat pada umumnya. Sekarang kita susah menemukan orang yang mau menghibahkan sedikit hartanya demi kemaslahatan orang banyak.


1 Response to “Problem pnpm mandiri”


  1. 1 pey872
    April 21, 2011 pukul 10:39 pm

    koment nya dong!!!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s