06
Mei
09

Paradigma Pendidikan


Pepi PerdiansyahTahun 1945 Hirosima dan Nagasaki di bom atum oleh pasukan sekutu sehingga menyebabkan kehancuran sebuah bangsa Jepang pada waktu itu. Melihat kehancuran bangsanya yang begitu dahsyat, kata pertama yang diucapkan oleh kaisar jepang pada waktu itu  adalah “berapa orang guru yang masih hidup?”. Mendengar ucapan itu yang pertama kali keluar dari mulut seorang kaisar, kita jadi berpikir kenapa kata-kata itu yang pertama kali diucapkan oleh seorang raja atau kaisar yang berkuasa, bukannya “kekayaan yang tersisa atau berapa kerugian yang kita alami?”. Seandainya kita yang jadi kaisar atau raja jepang pada waktu itu, mungkin kata-kata itu (berapa kerugian yang kita alami) yang pertama kali keluar dari mulut kita.

Kita tahu bahwa jepang sekarang merupakan salah satu negara maju terkuat di dunia menyaingi negara amerika. Padaha dilihat dari segi geografi, negara jepang merupakan negara yang rawan akan bencana serta sumber daya alam yang sangat terbatas. Ironisnya dengan keterbatasan sumber daya alam, jepang mampu menjadi negara kuat dan paling kaya di Asia terbukti dengan banyakya produk jepang yang menguasai pasar dunia menyebabkan ketakutan negara-negara maju lainnya termasuk negara adi daya yaitu Amerika serikat. Melihat keberhasilan jepang dalam mengatasi keterpurukan akibat kehancuran yang begitu dahsyat, sulit rasanya kita mempercayainya, tapi itu lah kehebatan bangsa jepang. Bangsa jepang sadar betul bahwa faktor yang bisa membangkitkan negara dari kehancuran adalah faktor pendidikan. Pembangunan sektor pendidikan yang menjadi prioritas utama dalam restrukturisasi pembangunan jepang terbukti mampu mendongkrak perekonomian negara yang sangat kuat serta mampu bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

Inilah salah satu perbedaan pemikiran yang sangat mendasar antara bangsa Jepaang dengan bangsa Indonesia, bangsa indonesia masih memandang pendidikan sebagai pelengkap bukan yang utama serta pendidikan masih berkisar pada konteks tual belum berperan sebagai pragmatis. Artinya bahwa pendidikan di indonesia masih sebatas pengetahuan semata belum sampai konteks aflikasi. Terbukti dengan banyaknya lulusan setingkat sarjana masih belum bisa mendongkrak perekonomian indonesia. Yang paling menyedihkan dari para lulusan-lulusan sarjana di negara ini banyak yang menjadi pengangguran. Padahal di negara-negara maju justru kontribusi yang paling besar dihasilkan oleh lulusan-lulusan sarjana, bahkan bukan Cuma lulusan sarjana yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan negaranya tetapi justru dari lulusan-lulusan sekolah dasar yang mampu membangun perekonomian rakyat dengan banyak home industri kecil yang mampu mendongkrak perekonomian rakyat. Sebagai contoh hasil dari home-home industri kecil yang dihasilkan oleh masyarakat jepang adalah  mampu mengeksport kebutuhan-kebutuhan negara lain seperti indonesia. Kita tahu bahwa pemilu tahun 1999 indonesia mengimfor kotak suara dan bilik suara langsung dari jepang. Anehnya bilik suara dan kotak suara yang kita imfor langsung dari jepang tersebut bukan hasil dari industri besar yang ada di jepang melainkan hasil dari home-home industri kecil. Artinya bahwa bilik suara dan kotak suara hasil buatan tangan-tangan masyarakat jepang yang tidak mengenyam pendidikan setingkat sarjana. Lulusan-lulusan sekolah dasar di jepang sudah mampu menghasilkan pendapatan bagi masyarakatnya sendiri dan hebatnya lagi sudah mampu menghasilkan devisa bagi negaranya lewat produk-produk home industrinya tersebut.

Melihat peranan pendidikan di jepang yang mampu mendongkrak perekonomian timbul satu pertanyaan yang mendasar, “apa yang salah dari pendidikan di indonesia sehingga tidak mampu meningkatkan pendapatan perorangan maupun perekonomian nasional? Padahal lulusan sarjana di indonesia tidak kalah banyaknya dengan di negara jepang, bahkan kalau dilihat dari jumlah penduduk indonesia mungkin lulusan sarjana di indonesia lebih banyak dibandingkan dengan di jepang. Gambaran ini menandakan bahwa pemikiran tentang pentingnya pendidikan di Negara ini masih jauh dari harapan dan lulusan-lulusanya belum siap pakai.

Sistem pendidikan di Negara kita masih mengharapkan siswa menjadi “Superman”, dimana siswa dituntut untuk segala bisa tanpa melihat kompetensi individu. Artinya bahwa sistem di kita masih mengedepankan kuantitas dibandingkan dengan kualitas. Terbukti dari begitu banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari oleh masing siswa dan jam pelajaran yang begitu padat serta waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan studinya, menyebabkan siswa atau anak didik menjadi cepat bosan dan jenuh. Kehilangan motivasi dan gairah belajar siswa, kemungkinan menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan pembangunan perekonomian nasional. Di Sadari atau tidak, mau atau tidak mau motivasi masyarakat indonesia dalam mengikuti proses pendidikan adalah untuk mendapatkan penghasilan. Artinya bahwa motivasi masyarakat indonesia bersekolah adalah mengharapkan pekerjaan dan penghasilan ketika lulus dari bangku sekolah dan berharap bisa meningkatkan tarap ekonomi keluarga. Hal ini senada dengan Herbert Spencer (1860) menganalissi tujuan pendidikan menjadi lima bagian:

  1. Kegiatan demi kelangsungan hidup
  2. Usaha mencari nafkah
  3. Pendidikan anak
  4. Pemeliharaan hubungan dengan masyarakat dan negara
  5. Penggunaan waktu senggang.

Sementara kalau melihat tujuan dari pendidikan nasional indonesia berdasarkan undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sisdiknas (sistem pendidikan nasional) yang menghasilkan Standar Nasional Pendidikan No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Indonesia yang bertujuan sebagai berikut:

  1. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu.
  2. Standar Nasional Pendidikan menjamin mutu pendidikan dalam rangka mencerdasarkan kehidupan bangsa yang bermartabat.
  3. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Penjabaran dari tujuan pendidikan masih ngambang artinya bahwa dampak dari pendidikan belum secara nyata bisa diterima masyarakat secara langsung. Materi pelajaran yang banyak serta jam pelajaran yang padat tidak serta merta menghasilkan lulusan terbaik dan siap pakai. Hal ini berdampak pada sektor ekonomi. Singkat kata, bahwa pendidikan indonesia belum berguna bagi pembangunan perekonomian yang dapat menunjang pembangunan bangsa baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pendidikan masih berkisar pada pengetahuan semata secara teoritis, belum secara pragmatis bisa diterapkan oleh masyarakat demi kelangsungan hidup dan berguna untuk membangun kekuatan ekonomi.

Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan dewasa ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata, terbukti dari tidak sedikit orang tua berkorban segalnya demi memperjuangkan anaknya supaya bisa sekolah dan lulus dari pendidikan yang setinggi-tingginya. Pengorbanan orang tua ini bertujuan untuk memperbaiki status sosial ekonomi keluarga. Mengenai pengorbanan orang tua tersebut ada ungkapan yang tersirat bahwa biarlah orang tua menjadi supir angkot tetapi anak harus menjadi pilot. Sayangnya meski pengorbanan orang tua atau masyarakat begitu besar terhadap pendidikan, tetapi banyak orang atau masyarakat tidak menyadari tujuan yang nyata mengenai pendidikan itu sendiri. Hanya sedikit orang atau masyarakat yang dapat merumuskan tujuan pendidikan yang dijalaninya, misalnya apa tujuan yang ingin dicapai oleh anaknya ketika lulus dari sekolah atau pendidikannya. Kebanyakan orang ketika ditanya mengenai tujuan pendidikan, Orang tua dan anak didik rata-rata menjawab  “entah bagai mana nanti saja yang penting anak sekolah” . melihat hampir semua jawaban dari masyarakat dan anak-anak didik menjawab seperti itu, kita menjadi tahu bagai mana sebenarnya fungsi pendidikan di indonesia.

Idealnya ketika orang bertindak atau melakukan sesuatu pasti mempunyai tujuan ingin dicapainya (ada motif dibalik itu). Ketika kita berjalan tidak mengetahui akan kemana dan harus mencapai apa, rasanya lucu dan hampir bisa dipastikan orang itu ada kecenderungan jiwanya sakit. Kondisi ini terjadi dan dialami oleh hampir semua orang tua yang sudah begitu besar berkorban untuk membiayai anaknya. Oleh karena itu saya berfikir bahwa kasihan sekali orang tua yang sudah berkorban begitu banyaknya dengan menjual segala harta demi membiayai pendidikan anak tetapi tidak tahu apa dan kemana arah tujuan dari semua itu. Intinya bahwa seseorang tidak akan sampai kesuatu tujuan bila ia tidak mengetahui dengan jelas apa tujuannya dan kemana ia harus pergi dserta bagai mana membawa anak didiknya pergi.

Ayah dari John F. Kennedy, dengan tegas bercita-cita agar anaknya menjadi presiden. Untuk tujuann itu ayahnya berupaya segala cara untuk mewujudkan tujuan itu dan ternyata berhasil menjadikan John F Kennedy sebagai seorang presiden, presiden Amerika Serikat pada saat itu. Melihat keberhasilan John F Kennedi berhasil menjadi presidan dengan diawali oleh tujuan yang tegas dan jelas, maka bisa disimpulkan bahwa Semua itu akan terwujud apabila dari awal kita mempunyai tujuan dan cita-cita yang jelas. Keberhasilan tergantung dari keras tidaknya mewujudkan keinginan itu. Bayangkan ketika kita sudah mempunyai tujuan pun kita masih harus berupaya dengan keras untuk mewujudkannya, apa lagi kalau kita tidak mempuanyai tujuan.!

Pengorbanan orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya tidak sebanding dengan harapan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang di dapat. Mahalnya pendidikan di indonesia tidak serta merta menghasilkan keuntungan bagi masyarakat secara ekonomi. Terbukti dengan tingginya pendidikan seseorang dan mahalnya biaya pendidikan serta lulusan-lulusan sekolah terbaik tidak menjamin seseorang itu mendapatkan kontribusi yang nyata bagi kehidupannya. Jangankan untuk kehidupan selanjutnya, untuk mengganti biaya pendidikan pun kebanyakan orang tidak mampu menggantinya. Hal ini diakibatkan oleh banyak lulusan yang tidak siap pakai dan menjadi pengangguran yang otomatis tidak menghasilkan. Kalau kita mau itung-itingan, berapa biaya yang sudah kita keluarkan hanya untuk menjadi seorang penganguran? Seandainya pengorbanan orang tua dalam menyekolahkan anaknya dbarengi oleh tujuan yang jelas, maka pengorbanannya itu tidak lah sia-sia. Minimal anak menjadi profesional dibidangnya, maka penghasilan secara ekonomi pun pasti mengikuti secara otomatis.


1 Response to “Paradigma Pendidikan”


  1. 1 pey872
    April 21, 2011 pukul 10:40 pm

    sebagai apresiasi, tolong tingalkan pesan.
    terimakasih


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s